Pages

Islam Di Bagian Timur Sudan

Islam Di Bagian Timur Sudan




 Islam memasuki wilayah timur Sudan melalui dua arah : di utara, dari Mesir dan menyusuri daerah sungai Nil serta dari arah timur melalui laut merah dari Arab. Setelah beberapa abad setelah Islam untuk pertama sekali memasuki Mesir, kira-kira tahun 643 setelah masehi, tetapi tidak membuat kemajuan apa-apa ke daerah selatan, karena rute tersebut telah dikuasai oleh sejumlah kerajaan-kerajaan Nubia yang menganuut agama Kristen. Mereka menghalangi tentaratentara Arab dan pengganggu-pengganggu lainnya, seperti orang Arab “pemburu emas” pada abad ke Sembilan ke bukit-bukit yang ada di sekitar laut merah, hingga abad ke empat belas. Pada masa itu, para kelompok nomaden Arab menerobos halangan orang-orang Nubia dan membuat suatu terobosan. Ini adalah merupakan suatu pergerakan yang lamban, yaitu melalui percampuran dan percampuran ulang unsur-unsur yang masih bersifat nomaden dengan petanipetani yang berdiam secara menetap, yaitu proses Arabisasi yang maju secara perlahan-lahan menuju ke hulu sungai Nil. Pada saat jatuhnya kota Alwa, dekat Khartoum kira-kira tahun 1500, Islam mulai menyebar secara luas ke daerah yang sekarang dikenal sebagai Republik Sudan, yang dibantu oleh para guru-guru dan misionaris yang datang dari Irak dan berbagai daerah di Arab. Seperti yang terjadi di beberapa daerah yang terdapat di Congo dan Afrika Timur pada abad ke Sembilan belas, banyak dari antara guru-guru yang dengan sendirinya merupakan Muslim penganut ilmu kebatinan (sufis) yang menjadi pengikut organisasi-organisasi aliran kebatinan Islam tertentu (tariqas, seperti Qadiriya dan Shadhiliya). Kemajuan Islam dengan bantuan orang-orang seperti itu terjadi selama beberapa abad, tetapi pada tahun 1900 sebagian besar masyarakat yang tinggal di bagian wilayah Timur Sudan telah menjadi Muslim. Setelah Ottoman Turkish menaklukan Mesir pada tahun 1517, Sultan Selim I mencoba menaklukan pengadilan yang sangat ketat atas daerah lembah di hulu sungai Nil. Untuk daerah perbatasan yang terletak antara Sudan dan Mesir dia mengirimkan pasukan tentara Turki Balkan, yang kemudian mendiami dan menikah dengan masyarakat setempat. Tidak lama setelah itu, suatu Negara baru yang dihuni orang-orang Muslim Sudan segera berdiri di daerah ini, yaitu kerajaan Senar. Walaupun kerajaan tersebut telah dikalahkan oleh pasukan Balkan dan bergerak kea rah selatan, tetapi kerajaan tersebut tetap bertahan hingga permulaan abad ke Sembilan belas. Sebagaimana di Negara-negara yang dihuni oleh orang-orang Sudan lainnya yang ada sebelumnya, maka masyarakat Sennar juga menerima dengan baik para pendatang dan guru-guru Muslim. Dalam kondisi yang menguntungkan seperti itu maka Islam menyebar kearah barat yakni ke daerah-daerah antara sungnai Nil dan Danau Chad, ke kerajaaan-kerajaaan seperti Darfur dan Wadai, dan juga ke bagian hulu dan hilir sungai Nil yang dapat dilayari, yaitu ke bagian-bagian Nil Putih dan Nil Biru. Selama abad ke Sembilan belas, episode terutama sejarah orang-orang Sudan lebih banyak berbicara mengenai invasi orang-orang Mesir, yang digerakan oleh Muhammad „Ali pasha pada tahun 1820, yang memerintah Mesir saat itu, dan kemudian dilanjutkan pendudukan orang-orang Anglo-Mesir. Secara bersamaan perampasan budak-budak dan gading berkembang hingga dimensi-dimensi yang lebih besar. Pada saat perbudakan dan perusakan telah menjadi suatu hal yang umum, kira-kira tahun 1880, maka dislokasi sosial ekonomi Sudan telah terjadi hampir seluruhnya. Masyarakat yang mencari perubahan politik dan socsal yang radikal, yang mendambakan kejayaan selama-lamanya, yaitu „Mahdi‟ orang-orang Sudan (Mesiah). Pergerakan yang terkenal ini (1881 – 1898) secara perlahan-lahan telah berhasil mengusir orangorang Inggris dan Mesir dari daerah ini tetapi hanya sedikit mengurangi kemiskinan orang-orang nomadaen, petani dan penduduk urban. Kekuasaan kolonial berkuasa lagi dan mendirikan suatu rejim baru, yang berakhir pada pertengahan tahun 1950. Maasa ini memperlihatkan pertumbuhan rasa nasionalsme dan ajaran-ajaran Agama yang agung (organisasi-organisasi sufi seperti Mirghaniya) dan juga terjadinya kebangkitan Mahdiya, yaitu suatu ikatan persaudaraan yang seasal dengan Mahdi, yaitu organisasi aliran kebatinan yang telah dimodifikasi dengan sebagian kecil kepentingan-kepentingan politik. Setelah kemerdekaan masyarakat Sudan pada tahun 1953, maka sebagian dari ordo-ordo sufi ini berkembang menjadi cikal bakal partai-partai politik

Sejarah Penyebaran Islam di Benua Eropa

Sejarah Penyebaran Islam di Benua Eropa



Ekspansi Islam yang terhenti pada masa khalifah Utsman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu ajma’in dilanjutkan kembali oleh daulah Bani Umayah. 2 Di zaman Muawiyah Ibn Abu Sufyan3 Radhiallahu ‘anhu, Tunisia dapat ditaklukkan. Dr. Ali Mufrodi menjelaskan, bahwa masa pemerintahan Bani Umaiyah terkenal sebagai suatu era agresif, di mana perhatian tertumpu kepada usaha perluasan wilayah dan penaklukkan. Beliau melanjutkan, bahwa hanya dalam jangka waktu 90 tahun, banyak bangsa di empat punjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan Islam. 4 Di sebelah timur, Muawiyah Radhiallahu ‘anhu dapat menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Ekspansi ke timur yang dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd al-Malik Ibn Marwan Rahimahullah. Dia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan. Di zaman Umar ibn Abdul-Aziz Rahimahullah, serangan dilakukan ke Prancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh Aburrahman ibn Abdullah al-Ghafiqi Rahimahullah. Ia mulai dengan menyerang Bordeau, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota Tours, al-Ghafiqi Rahimahullah terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut di atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah (mediterania) juga jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah ini. Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini menjadi sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, turkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah.

Masuknya Islam ke Spanyol (Andalus) 

Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid Rahimahullah (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayah, penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik Ibn Marwan Rahimahullah (685-705 M). Khalifah Abd al-Malik Rahimahullah mengangkat Hasan ibn Nu'man al-Ghassani Rahimahullah menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah al-Walid, Hasan ibn Nu'man Rahimahullah sudah digantikan oleh Musa ibn Nushair Rahimahullah. Di zaman al-Walid itu, Musa ibn Nushair Rahimahullah memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Dalam proses penaklukan spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair Rahimahullahum ajma’in. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke AfrikaUtara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah. Thariq ibn Ziyad Rahimahullah lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair Rahimahullah dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid Rahimahullah. Pasukan itu kemudian menyeberangi Selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq Rahimahullah dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothik saat itu). Sebelum Thariq Rahimahullah berhasil menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair Rahimahullah di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.

Negara Palestina

Negara Palestina



Jauh sebelum negara Israel berdiri di Timur Tengah, orang-orang Yahudi selalu saja berhasrat kuat untuk menduduki tanah Palestina. Berbagai daya upaya diprogramkan, misalnya perjanjian Balfour di Inggris, berupaya keras membeli tanah di Palestina dan usaha lainnya sebagai provokasi. Seiring dengan itu pula masyarakat Islam dari berbagai kalangan selalu saja memegang dasar yang harus dijalankan di Palestina. Mereka mengidealkan dan malah menuntut selalu penghapusan janji Balfour yang penuh dengan kezaliman, ketidakadilan terhadap hak-hak bangsa Palestina; penghentian imigrasi Yahudi; penghentian penjualan tanah Kepada Yahudi; pendirian pemerintahan nasional Palestina dengan dipilih oleh parlemen (majlis Tasyri’i) yang menjadi penjelmaan keinginan hakiki masyarakat; dan masuk dalam negosiasi dengan Inggris untuk membuat kesepakatan yang akhirnya dapat memerdekakan Palestina.24 Kejatuhan umat Islam di Palestina di satu sisi dan kesuksesan Yahudi mencapai negara merdekanya, Israel yang dibangun di atas persakitan umat Islam di Palestina, dan sekitarnya, sebenarnya bukanlah mutlak karena kehebatan dan kesuksesan Yahudi menggalang kekuatan, dukungan dan lobi mereka, tetapi karena kelemahan pertahanan umat Islam di Palestina di bawah komando Turki ‘Utsmâni pada memasuki awal abad ke-20 begitu nyata. Pasukan Turki ‘Utsmâni tidak dapat berbuat banyak dalam menghadapi agresi negara-negara Eropa, yang simpulnya adalah Yahudi di dalamnya. Faktor lain karena umat Islam tidak berupaya mempertahankan persatuan (Pan-Islamisme) untuk seluruh umat Islam, tetapi sebaliknya umat Islam sudah termakan isu konsep negara bangsa(nation state) yang dipopulerkanBarat, terutama dari Prancis sebagai imbas dari revolusinya yang amat terkenal telah merobah tatanan dan peta politik negara bangsa dunia. Hal yang disebutkan terakhir buktinya adalah bahwa di penghujung abad 19, dan hingga awal memasuki abad 20, umat Islam amat tergiur dengan kemerdekaan negerinya masing-masing. Hal ini tentu bukti kesuksesan Barat dengan politik negara bangsanya, yang terkenal dengan semboyan misalnya Mesir untuk Mesir, Mesir bukan untuk Turki”. Ini awal terpecah belah umat Islam, yang tidak lagi menjunjung tinggi nilai khilafah yang sudah diwariskan Nabi dan Khulaur-Rasyidin sebelumnya. Dengan kesuksesan provokasi Barat dengan politiknegara bangsa demikian, maka Turki Usmani sebagai pemegang legitimasi khilafah otomatis mendapat serangan dari luar dan dari dalam. Dari luar adalah dari Barat sendiri yang ingin menjarah sebagian wilayah kekuasaannya, sementara dari dalam adalah dari umat Islam sendiri yang sudah amat tertarik untuk melepaskan diri dari kepemimpinan dan kekhalifahan Turki ‘Utsmâni. Dua hal inilah yang membawa petaka bagi umat Islam dalam upaya mempertahan diri dari serangan Barat, termasuk Palestina dari pendudukan Yahudi yang “pulang kampung” dari perantauan lama keturunan mereka di berbagai negara Eropa dan Amerika. Upaya Muslim Palestina mempertahankan diri dan malah ingin melepaskan diri dari cengkraman negara Israel yang Yahudi tersebut, diketahui dengan muncul gerakan, organisasi dan tokoh-tokoh pejuangnya yang silih berganti. Fatah, Hamas dan PLO (Palestin Liberation Organisation) adalah gerakan rakyat Palestina dan sebagai wadah perjuangan mereka untuk melawan Israel yang terkutuk. Di samping itu untuk membebaskan Palestina dari cengkraman penjajahan Yahudi-Israel, menurut Roslan, perlu disadarkan umat Islam umumnya dan rakyat Palestina khususnya bahwa pentingnya Bait al-Maqdis dalam Islam, adalah satu di antara tiga tempat suci yang harus diziarahi, yaitu di samping Masjidilharam dan Masjidnabawi.25 Upaya pembebasan Palestina dari Israel sudah dipikirkan pada level negara-negara Arab, seperti Yordania, Mesir, Arab Saudi, Suriah. Pemikiran dan upaya tersebut sudah sampai pada kesimpulan perjuangan bersama untuk membebaskan Palestina dari pendudukan Israel sejak tahun 1948. Semua negara di atas sudah bersiap untuk menggempur dan Mesir sudah menutup pesisir Laut Tengah (Madhaiq Tiran) serta meminta pengawas perbatasan PBB untuk meninggalkan wilayahnya. Akan tetapi sebelum pasukan Liga Arab itu bergerak, tepatnya pada 5 Juni 1967, Israel yang didukung oleh Inggris dan Prancis lebih dahulu membombardir pesawat-pesawat tempur Mesir, Yordania dan Suriah yang masih parkir di bandaranya masing-masing. Hal ini sesuatu yang tidak diduga samasekali, sehingga akibatnya Israel lebih leluasa menyerang ke seluruh penjuru dan negara-negara tersebut. 80 % persenjataan Mesir hancur dalam peristiwa tersebut. Israel dalam waktu enam hari saja berhasil menjajah wilayah Palestina yang masih tersisa yaitu Tepi Barat 5878 km danGaza 363 km; Gurun Sinai milik Mesir 61198 km; dan dataran tinggi Golan 1150 km2. Tidak hanya itu Pasukan tempur Yahudi tersebut berhasil memasuki wilayah al-Quds dan Masjidilaqsha, sambil bernyanyi: musy-musy dan apel…agama Muhammad berpaling dan tunggang-langgang, Muhammad telah mati… dengan meninggalkan kaum wanita”. Mereka juga berteriak, “ayo kita balas dendam (kekalahan) di Khaibar…”.26Realitas historis di atas amat menyakitkan hati umat Islam yang menghayati dan memiliki rasa solidaritas keislamannya.

Gerakan Fatah

Dalam upaya pembebasan Palestina dari Israel, pemuda palestina yang ada di luar di negara-negara Timur Tengah ingin berjuang melalui oranisasi, dan organisasi yang muncul pertama dari kalangan Arab-Muslim Palestina adalah Fatah. Fatah sebenarnya organisasi yang beraliran marxisme, dan sebelumnya sudah menyerap aspirasinya pada revolusi Aljazair. Mereka yang bergabung dalam Fatah (Harakah Tahrir Filistin dan kemudian menjadi Harakah at-Tahrir al-Wathani al-Filisthini) dideklatasi pertama di Kuwait pada 1957. Khalil al-Wazir (Abu Jihad), berasal dari Jalur Gaza, merupakan orang kedua dalam gerakan ini selama 30 tahun. Orang pertama dalam gerakan pembebasan adalah Pemuda IM Palestina.

Organisasi Pembebasan Palestina

Organisasi ini muncul pertama atas prakarsa Presiden Liga Arab Jamal Abdul Naser, yang melihat banyak aktivitas rahasia dalam rang pembebasan Palestina. Oleh karenanya pada 1959, dalam persidangan Liga Arab menyerukan adanya wadah bersatu perjuangan Palestina, dan menunjuk Ahmad Hilmi Abdul Baqi sebagai ketua OPP sekalaigus representasi pemerintahan rakyat Palestina. Hanya saja tahun 1963 ia meninggal dunia, dan dengan prakarsa ‘Abd al-Naser terpilih pula Ahmad al-Syaqiri sebagai pengganti. Ia ditugaskan untuk mengorganisir masyarakat, memecahkan permasalahan dan mengaktifkan rakyat Palestina untuk perjuangan kesatuan negara bangsanya. OPP dengan dukungan Mesir, berhasil eksis dan membentuk Majlis Nasional Palestina yang kemudian mengadakan konferensi pertamanya di kota al-Quds pada 28 Mei 1964 dengan dihadiri oleh 422 delegasi, representasi masyarakat Palestina, dengan pembinaan Raja Husein dari Yordania. Pada Konferensi ini dilegalkan OPP dengan Piagam Nasional Palestina, yang menegaskan bahwa perjuangan bersenjata untuk memerdekakan Palestina serta tidak mundur sejengkal pun dari tanahnya. Pada kesempatan itu juga dibentuk pasukan pembebasan Palestina dan upaya-upaya mobilisasi dan informasi ditingkatkan PLO atau OPP, ketika Yasser Arafat memimpin sejak tahun 1969, kepribadian nasional Palestina semakin mendapat tempat di hati rakyatnya dan masyarakat Islam umumnya menaruh harapan besar. Kemudiaan sejak Oktober tahun 1974 OPP/PLO mendapat pengakuan negara-negara Arab sebagai organisasi tunggal rakyat Palestina yang legal. Bulan November tahun yang sama OPP membuat prestasi politis, ketika Yasser Arafat mendapat kesempatan untuk memberikan pidatonya di depan PBB di New York dan OPP/PLO diterima sebagai aanggota pengawas. Kemudian pada tahun itu juga Palestina mendapat klausul tersendiri di dalam persidangan PBB yang pertama kalinya. Salah satu resolusi terpenting PBB adalah resolusi 3236 yang dikeluarkan tanggal 22 November 1975 dengan judul resolusi hakhak bangsa Palestina, yaitu untuk menentukan masa depan mereka, hak merdeka dan berdaulat, hak kembali ke negerinya, hak untuk mengembalikan hak-hak fundamentalnya dengan segala cara sesuai tujuan piagam PBB..

jangan lupa di share ya :)

Perlawanan Palestina Atas Israel “Jihad atau Terorisme”

Perlawanan Palestina Atas Israel “Jihad atau Terorisme”


Sebenarnya, gerakan rakyat Palestina dalam rangka membebaskan diri dari bentuk penindasan, ketidakadilan, terorisme, atau imperealisme yang secara langsung dilakukan oleh kaum Yahudi atau bangsa Israel adalah bukan hal yang baru. Jauh sebelum Islam datang, khususnya setelah bangsa Israel diusir dari tanah Mesir yang kemudian eksodus dan memilih wilayah Palestina sebagai tempat pengungsian, sejak saat itulah rakyat Palestina mengadakan perlawanan akibat terusik ketenangannya. Untuk mengetahui akar  permasalahan mengapa khususnya rakyat Palestina mengadakan perlawanan terhadap kaum Yahudi tampaknya perlu diungkapkan siapa kaum Yahudi atau bangsa Israel itu? Bagaimana karakternya? Dan, wajarkah apabila perlawanan diarahkan kepada bangsa Israel? Dalam catatan sejarah disebutkan, bahwa bangsa Israel pada dasarnya adalah bangsa nomad yang hidup di padang pasir, selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan membawa ternak, onta, dan binatangbinatang peliharaannya guna mencari tempat pengembalaan, air, dan rumput. Sementara itu, bani Israel atau Hebrew (orang-orang Ibrani) diambil dari nama keturunan Ibrahim.47 Orang-orang Hebrew tersebut berasal dari ras Smith, disamping orang-orang Suriah dan Arab juga dinisbatkan kepadanya. Jadi, negeri-negeri Arab Tengah dan Utara adalah tanah orang-orang Smith. Selanjutnya, sekelompok orang dari mereka, yang kemudian disebut bani Israel, pergi dan berpindah meninggalkan negeri menuju ke arah utara, yaitu ke Mesopotamia, yang pada waktu itu kekuasaan berada di tangan orangorang Sumeria dan Akkadia. Sampai beberapa waktu orang-orang Hebrew tinggal di sana dan menikmati gemerlapnya peradaban Babilonia.48 Selanjutnya, mereka masuk ke Palestina dengan dipimpin oleh Ibrahim yang tinggal di Kildania, putra seorang pembuat patung (berhala). Ibrahim berhijrah bersama istrinya, Sarah, dan Luth, keponakannya, serta beberapa kerabat dan budak dari Kildania untuk menghindari perlakuan buruk dari penduduk di sana. Mereka menuju ke arah Utara hingga mencapai daerah Armania, kemudian berjalan lagi menuju arah Selatan hingga masuk ke negeri Kan‘an. Ibrahim mengakhiri pengembaraannya di tempat itu, dan menikmati ketentraman, kedamaian, dan kebaikan yang ada di sana.49 Suatu saat, negeri Kan‘an dilanda kekeringan, sehingga tidak mencukupi kebutuhan Ibrahim, kaumnya, dan ternak-ternak mereka. Pergilah Ibrahim dan keumnya ke arah selatan, menuju Mesir yang tanahnya subur dan banyak tanaman. Ibrahim pun tinggal di Mesir beberapa waktu lamanya, dan untuk beberapa saat menikmati kejayaan Raja Fir‘aun, hingga bertambahlah kekayaan dan ternaknya. Fir‘aun tidak membiarkan Ibrahim dan kaumnya tinggal di Mesir lebih lama, sehingga dia kembali ke negeri Kan‘an bersama seluruh harta kekayaannya dan ternaknya, termasuk bersama pula dengan Hajar, yaitu seorang budak perempuan Mesir yang dihadiahkan Fir‘aun kepada Sarah. Sesampainya di negeri Kan‘an lagi, Ibrahim menikah dengan Hajar atas permintaan Sarah, dan dikarunia seorang anak laki-laki, yaitu Ismail. Kira-kira 14 tahun kelahiran Ismail, Sarah Istri Ibrahim melahirkan anak, yaitu Ishak. Kemudian Ibrahim wafat dan meninggalkan anaknya, Ismail, di Hijaz, sedangkan Ishak ditinggalkan di Kan‘an.50 Ishak dikaruniai dua orang anak, yaitu Eso dan Ya‘qub. Ya‘qub disebut juga dengan Israel dan kepadanyalah bangsa Israel menisbatkan dirinya. Ya‘qub menikah dengan dua orang anak pamannya, Lea dan Rahel, disamping juga menikah dengan budaknya Lea, yaitu Zilfa dan budaknya Rahel, yaitu Belha. Secara berurutan, dengan Lea dikaruniai 6 anak, yaitu Robbin, Syam‘un, Lawe, Yahuda, Yassakir, dan Zabolon. Dengan Rahel dikaruniai 2 anak, yaitu Yusuf dan Benyamin. Dengan Zilfa dikaruniai 2 anak, yaitu Gad dan Asyer. Dengan Belha dikaruniai 2 anak, yaitu Dan dan Naftali.51 Diceritakan, bahwa ternyata kecintaan dan kasih sayang Ya‘qub secara berlebihan diberikan kepada Yusuf dan Benyamin. Saudara-saudara yang lainnya pun cemburu, dan mereka berencana membuat makar untuk menghabisi Yusuf dengan mengajaknya pergi bersama mereka mengembala ternak. Yusuf lalu dibuang ke dalam sumur yang dalam, dan mereka pulang ke Ya‘qub dengan berpura-pura menangis. Beberapa saat kemudian, lewatlah sebuah kafilah yang secara kebetulan mengambil air di sumur tersebut. Yusuf pun ikut terangkat, lalu dibawalah dia. Sesampainya kafilah tersebut di Mesir, Yusuf pun dijual kepada kepala keamanan Mesir untuk dikerjakan. Dalam perjalanannya ditunjuklah Yusuf oleh raja Fir‘aun (Fotivar) untuk menduduki posisi kepala urusan logistik. Posisi dan kedudukan Yusuf inilah yang telah mendorong Ya‘qub dan anak-anaknya hijrah ke Mesir untuk menghindari bencana kelaparan yang melanda negeri mereka, seperti yang pernah terjadi pada Ibrahim sebelumnya.52 Di Mesir pertumbuhan dan perkembangan bangsa Israel semakin pesat. Mereka hidup enak di Mesir, dan mendapatkan ketentraman dalam menjalankan aktivitas kehidupannya. Namun, dijelaskan bahwa watak bangsa Israel yang bersifat individualistis dan perasaan keterasingan, menyebabkan mereka tidak dapat bekerja sama dengan orang-orang sekitarnya, atau berinteraksi dengan penduduk asli setempat, termasuk dengan masyarakat Mesir. Terbukti, penduduk Mesir kemudian mengetahui bahwa bangsa Israel berencana membuat makar. Ketika Mesir dilanda bencana dan Musibah, bangsa Israel justru memanfaatkan keadaan ini untuk melemahkan kekuatan perekonomian rakyat Mesir dan menghilangkan rasa persaudaraan di kalangan bangsa Mesir. Mereka ingin menduduki kekuasaan atas orang Mesir, baik melalui tekanan ekonomi, maupun melalui agama dan keyakinan. Untuk selanjutnya, bangsa Israel pun terusir dari bumi Mesir pada masa kepemimpinan Musa.53 Dalam kenyataannya, dikarenakan karakter yang dimiliki bangsa Israel, mereka sebenarnya ketika di Mesir mengenggap Musa bukan sebagai rasul utusan Tuhan, tetapi memandang Musa tidak lebih sebagai seorang pemimpin dan panglima, yang darinya dapat membebaskan orang-orang Israel dari perbudakan orang-orang Mesir. Setelah diselamatkan, mereka malah menganggap Musa sebagai orang yang telah ikut menghilangkan kenikmatan duniawi yang mereka dapatkan di Mesir, dan Musa pulalah yang membawanya pada kehidupan pengembaraan di padang pasir.54 Setelah Musa meninggal, kepemimpinan bangsa Israel dipegang oleh Yusa‘ ibn Nun. Yusa adalah salah seorang yang setia kepada Musa, dan Musa pun telah memilihnya untuk memimpin bangsa Israel sebelum wafatnya. Selanjutnya, Yusa‘ dan para pengikutnya meneruskan perjalanan menuju ke arah utara, timur sungai Yordania. Mereka dapat menyebrangi sungai Yordania dan akhirnya masuk ke Palestina.55 Di tanah Palestina ini, bangsa Israel berkuasa melewati beberapa periode, yaitu masa kekuasaan para hakim, masa kekuasaan para raja, dan masa perpecahan yang pada akhirnya melenyapkan kekuasaan bangsa Israel dari bumi Palestina. Diceritakan, bahwa kerajaan Israel jatuh ke tangan Sargon II, yaitu raja Assyria. Pada tahun 608 SM, penguasaan atas kerajaan Israel berpindah ke tangan Fir‘aun dari mesir. Setelah itu, penguasaan atas Israel pindah lagi ke tangan Nabukadnezar, raja Babilonia. Akhirnya, tamatlah riwayat kerajaan Yahudi di Palestina. Pada tahun 135 M, Romawi dapat kembali menghancurkan Yerusalem dan memusnahkan apa saja yang ada di Yerusalem, tak ketinggalan sisa-sisa orang Yahudi pun dihabisi dengan cara dibunuh. Namun, sebagian mereka ada yang dapat melarikan diri, baik ke Mesir, ke arah Utara Afrika, Sepanyol, serta Eropa.56 Dengan demikian, tahun 135 M merupakan tahun tamatnya riwayat kehidupan Yahudi di Palestina. Mereka mengerti dan memahami sepenuhnya bahwa tidak ada tempat yang layak lagi baginya untuk tinggal di negeri ini. Mereka pun berniat mengembara di muka bumi, yaitu tinggal di berbagai tempat, tidak menetap dan selalu berpindah-pindah seperti pada awal-awal kehidupan mereka. Dalam masa pengembaraan yang panjang itulah, banyak dari mereka yang akhirnya mendiami beberapa kawasan Eropa, sebagaimana pula mereka mendiami Mesir, Afrika Utara, Yaman, dan lain sebagainya. Masa-masa inilah yang sangat berpengaruh terhadap watak karakteristik dan tingkah laku bangsa Yahudi.57 Mereka pada awalnya memandang bahwa Palestina merupakan tanah airnya, tetapi kini mereka kehilangan tanah air itu.


Dahulu, mereka adalah satu umat yang bersatu dan menyatu, namun kini umat itu terpecah pecah dan tersebar di berbagai tempat. Orang-orang Yahudi hidup di antara umat dan bangsa-bangsa lain, tetapi meskipun demikian tetap saja hinggap pada dirinya perasaan keterasingan, yang menjadi ciri utama karakteristik mereka. Mereka menjadi tamu-tamu di negeri orang, tetapi tamu yang bertindak kurang ajar. Bagaimana mungkin seorang tamu menganggap dirinya sebagai ras dan jenis yang lebih baik dari tuan rumahnya, dan anehnya, lebih mengutamakan dirinya sendiri daripada tuan rumahnya.58 Bahkan, dikatakan bahwa mereka begitu yakin bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang terkasih dihadapan Tuhan. Mereka demikian yakinnya bahwa Tuhan selalu memberikan perhatian khusus kepadanya. Mereka mengatakan, kalau sekiranya bukan karena campur tangan dan kasih Tuhan, niscaya kami sejak dahulu sudah binasa. Demikianlah keyakinan mereka. Mereka menganggap bahwa Tuhan merekalah satu-satunya Tuhan Yang Mahakasih dan Mahahebat dan hanya agama dan bangsa Yahudilah yang paling dikasihi tuhan. Keyakinan ini muncul setelah terjadinya eksodus dari wilayah Mesir di bawah penindasan Fir‘aun.59 Orang Yahudi selalu iri hati serta membencinya kepada siapa saja yang memiliki tanah air dan tempat tinggal. Demikianlah, orang-orang Yahudi lalu menjadi musuh setiap negeri dan tanah air. Masyarakat Yahudi selalu menjadi sumber dan sebab timbulnya penghianatanan dan persengkataan serta permusuhan yang ditujukan kepada setiap negeri tempat mereka tinggal. Oleh karena itu, wajar apabila mereka dibantai oleh Hitler, misalnya, dikarenakan dia telah menghitung beberapa bentuk penghianatan orang Yahudi terhadap Jerman. Hitler menyebutkan, diantaranya adalah menggunakan harta dan kekayaan masyarakat dengan cara manipulasi dan riba, merusak pendidikan dan pengajaran, menguasai bank, bursa, dan kamar-kamar dagang untuk kepentingan mereka, menguasai fungsi dan peran media, melakukan intervensi dalam politik negara bukan untuk kepentingan negara itu sendiri, serta puncaknya adalah spionase (memata-matai) Jerman.60 Pada awal-awal Islam, misalnya, di Madinah keberadaan kaum Yahudi adalah menjadi salah satu problem. Pada awalnya, oleh Nabi Muhammad, kaum Yahudi diperlakukan sebagaimana masyarakat Arab pada umumnya. Muhammad berupaya untuk berbuat baik terhadap kaum Yahudi dan menjadikan dirinya agar diterima sebagai Nabi. Bahkan, untuk menyenangkan kaum Yahudi dan Kristen, Nabi Muhammad pada mulanya meminta umatnya untuk shalat ke arah Yerusalem dan puasa ‘Asyura sebagai hari penebusan dosa Yahudi. Namun, kaum Yahudi tidak pernah bersikap baik terhadap Nabi, dan upaya beliau membujuk mereka akhirnya gagal.61 Kehidupan Yahudi di Rusia adalah contoh lain yang paling jelas. Di Rusia, pada awal abad ke 19 terdapat lebih dari setengah jumlah Yahudi di seluruh dunia. Mereka hidup di sana sebagai parasit atau benalu, serta menghianati dan mengingkari hukum dan undang-undang. Orang-orang Yahudi yang miskin, membuka kedai-kedai dan memperdagangkan arak, sementara yang kaya bekerja dengan cara riba dan penipuan yang keji. Para pedagang membuat tipu muslihat untuk mengelabui perdagangan bangsabangsa lain, sementara para pekerjanya menetapkan dan menerima dengan upah kecil sehingga menimbulkan kegelisahan dan protes pekerja-pekerja lain.62 Jadi, itulah karakter bangsa Yahudi, di mana mereka tinggal di sanalah mereka menjadi benalu. Kini, perlakuan yang tidak manusiawi pun dilakukan kembali terhadap bangsa Palestina. Dengan mendeklarasikan berdirinya negara Israel, mereka mencoba kembali ke Palestina dan mengumpulkan kembali bangsa ini yang telah tercerai berai. Mereka berkeyakinan, bahwa sebenarnya negeri Palestinalah wilayah yang cocok buat mereka, yaitu suatu wilayah yang dijanjikan.
Namun, mereka tidak bisa menghilangkan karakter yang telah disandangnya dari generasi ke generasi. Kedatangan bangsa Yahudi ini telah mengusik ketenangan, kesejahteraan, dan kemakmuran bangsa Palestina. Tercatat pada 14 Mei 1948, diumumkanlah secara resmi berdirinya negara Israel dengan berpijak pada legitimasi resolusi PBB No. 181. Beberapa saat dari pengumumam itu, pemerintah AS menyatakan pengakuannya terhadap negara Israel, yang kemudian disusul pengakuan dari Uni Soviet. Dengan demikian, sejak saat itu pula, mendungnya awan Timur Tengah berawal, negara Arab serta merta menolak resolusi PBB tersebut. Hal itu pula yang menyebabkan meletusnya perang Arab-Israel. Yang memprihatinkan, pasca perang 1948, nasib rakyat Palestina justru semakin buruk.63 Setelah deklarasi negara Israel, rakyat Palestina semakin tidak tenang. Rakyat Palestina mengungkapkan, bahwa kami dahulu memiliki rumah, kebun yang indah, dan pabrik-pabrik milik ayah dan nenek moyang kami. Semua itu membentang dari Sungai Jordan sampai ke Laut Tengah. Sekarang, setelah negara Israel berdiri kami dipindahkan ke tempat terpencil yang jauh dari kehidupan manusia. Ribuan imigran Yahudi datang menduduki daratan kami, mengusir penduduk asli ke negara tetangga (Libanon, Syria, dan Yordania). Lalu, mereka membangun perkampungan di pinggiran sebelah timur dan sebelah selatan Palestina (Tepi Barat dan Jalur Gaza). Tahun 1948, rumah, kebun, tanah pertanian, dan pabrik-pabrik kami di rampas, dan tanah rampasan itu kemudian mereka sebut sebagai negara Israel. Tahun 1967, pasukan Israel menyerbu Tepi Barat dan Jalur Gaza, dua tempat pertahanan terakhir rakyat Palestina. Sejak itu, rakyat Palestina selalu ditekan oleh pasukan militer Israel.64 Sejak tahun 1948 pula, negeri Palestina telah berubah menjadi negeri jajahan Israel. Bagi kaum muslim Palestina, hidup di sana bagaikan hidup di dalam penjara. Perlakuan biadab Yahudi dari mulai pemukulan, penembakan hingga pembantaian sadis mudah didapati di jalan-jalan. Pemerintah Israel sejak awal berdirinya, telah melakukan westernisasi terhadap bangsa Palestina. Nilai-nilai materialisme Barat yang dibawa dari hasil diaspora mereka tidak sesuai dengan nilai-nilai spiritual keagamaan asli milik bangsa Palestina. Oleh karena itu, wajar apabila terjadi antagonisme (pertikaian) antara kedua belah pihak.65 Perlawanan demi perlawanan terus dilakukan oleh bangsa Palestina untuk meraih kembali hak-hak mereka yang dirampas penjajah Israel. Bermacam cara telah ditempuh, baik melalui perlawanan senjata maupun cara diplomasi. Namun, upaya-upaya tersebut belum membuahkan hasil kemerdekaan bagi bangsa Palestina. Di bawah pendudukan Israel, bangsa Palestina terus-menerus mengalami penderitaan. Mereka banyak mengalami kesulitan hidup. Tidak sedikit korban berjatuhan. Anak-anak banyak terlantar kehilangan orang tuanya. Kondisi mereka sangat buruk, akibat kebijakan pemerintah Israel yang sangat mengekang dan menekan mereka.66 Sekarang, pertanyaanya adalah salahkan apabila rakyat Palestina bereaksi untuk melawan dan menentang Israel? Bagaimana perlawanan rakyat Palestina jika dilihat dari kacamata agama ‖Islam‖, apakah dapat dimasukkan dalam kategori ‖jihad‖? Siapa yang sebenarnya layak menyandang gelar terorisme, rakyat Palestina atau Israel? Untuk melihat hal ini, pernyataan Azra tampaknya perlu digarisbawahi, bahwa harus diakui, terdapat individu dan kelompok-kelompok muslim yang melakukan kekerasan politik, yang mengandung sejumlah elemen justifikasi moral. Misalnya, tindakan kekerasan politik yang dilakukan para pejuang dan kelompok-kelompok Palestina melawan terorisme (state terorism) yang dilakukan negara Zionis Israel adalah memiliki justifikasi moral dari ketertindasan yang mereka derita dalam waktu yang panjang. Dengan demikian, Zionis Israel, dapat disebut terorisme dalam kasus dengan Palestina, yang didukung hampir tanpa reserve oleh Amerika Serikat dan banyak negara Barat lainnya.67 Jika dilihat, imperialisme yang dilakuakan Israel terhadap rakyat Palestina, sebenarnya adalah bentuk teroris yang jauh lebih mengerikan. Dalam hal ini, imperiaslis yang dilakukan mereka telah melahirkan ketidakadilan, kemiskinan, menindas harkat kemanusiaan, serta menimbulkan penderitaan yang panjang. Demikian pula, sejarah pun belum pernah mencatat, bahwa yang namanya imperialis telah menciptakan kemakmuran, kesejahteraan, dan kedamaian bagi umat manusia. Imperialis tak lain adalah wujud teror nomor wahid yang juga harus dikritisi dan diperangi.68 Di sisi lain, secara psikologis sebagai legitimasi perlawanan rakyat Palestina perlu diketahui, bahwa motivasi melakukan aksi bunuh diri yang dilakukan mereka adalah bentuk balas dendam atas penghinaan dan pelecehan terhadap dirinya atau keluarganya, atau juga rasa putus asa dalam hidupnya akibat tindakan kebebasan yang membuat tidak bisa mengenyam pendidikan dan meraih pekerjaan serta terus dibayangi kekejaman pendudukan Israel.69 Demikian pula dalam perjalanan selanjutnya, sejumlah pengkhianatan Yahudi Israel telah tercatat dalam lembaran sejarah Palestina. Misalnya, dalam situasi terakhir tahun 1999 ini, Yahudi kembali berkhianat dengan membatalkan Perjanjian Oslo, 14 Mei 1999. Dalam Perjanjian itu telah disepakati bahwa Palestina akan diberikan kemerdekaannya pada tanggal 4 Mei 1999, tetapi kenyataannya Israel kemudian menolak pendeklarasiannya dengan dalih Israel akan menghadapi pemilu. Arafat telah ditekan oleh Israel untuk menunda deklarasi Palestina merdeka. Selain itu, masih banyak bentuk pengkhianatan Israel terhadap Palestina. Diantaranya adalah pengkhianatan terhadap Perjanjian Wye River, Perjanjian Camp David, dan lainnya.70 Perlawanan rakyat Palestina dalam kacamata Islam tentu saja bagian dari ‖jihad‖ yang dilakuakan dengan peperangan. Jihad yang semacam ini mendapat legitimasi atau pembenaran menurut Islam manakala kaum Muslim atau negeri mereka diserang oleh orang-orang atau negara kafir. Contohnya adalah dalam kasus Afganistan dan Irak yang diserang dan diduduki AS sampai sekarang, juga dalam kasus Palestina yang dijajah Israel. Inilah yang disebut dengan jihad defensif (difā'ī). Dalam kondisi seperti ini, Allah SWT telah mewajibkan kaum Muslim untuk membalas tindakan penyerang dan mengusirnya dari tanah kaum Muslim: Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS al-Baqarah [2]: 190).


jangan lupa di share:)

Palestine Liberation Organization (PLO)

Palestine Liberation Organization (PLO)

Organisasi Pembebasan Palestina atau Palestine Liberation Organization (PLO) atau ; (Munazzamat al-Tahrir al-Filastiniyyah) merupakan organisasi politik dan paramiliter yang diakui Liga Arab sebagai perwakilan resmi Palestina sejak Oktober 1974. Organisasi ini merupakan hasil bentukan Liga Arab pada bulan Mei 1964. Tujuan awalnya adalah membebaskan Palestina melalui perlawanan bersenjata.25 Pada perang Juni selama enam hari (1967), Israel menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza, Sinai (Mesir) dan Dataran Tinggi Golan (Suriah), memperluas batasbatas Yerusalem dan memperpanjang Undang-Undang Israel atas Yerusalem Timur. Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 242 menuntut penarikan mundur.


pasukan Israel dari wilayah-wilayah yang baru diduduki. PLO menjadi payung organisasi bagi beragam kelompok perlawanan Palestina dan mengadopsi konstitusi nasional. Pada tahun 1968-1969, PLO mengadopsi tujuan negara demokrasi sekuler di seluruh wilayah Palestina. Yasser Arafat pun diangkat sebagai Presiden PLO.26 PLO mendapat pengakuan sebagai perwakilan resmi bangsa Palestina dari Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada tahun 1969. Pada 22 November 1974, keberadaan PLO diakui The United Nations General Assembly. PLO meningkatkan kegiatannya sekitar tahun 1970an, bahkan hingga tahun 1980an, PLO memainkan peran utama dalam perjuangan rakyat Palestina. Lahirnya gerakan Islam selama 1980-an memiliki dampak meluas atas organisasi ini, yang telah bertahan terutama melalui dukungan golongan kiri, pemerintah Arab sosialis, dan Uni Soviet. Kelompok Islam, khususnya yang mengorganisir dirinya di Jalur Gaza dan Tepi Barat, menjadi bentuk baku Intifadah pada 1987 dan memimpin pemberontakan ini. Pada 1990-an, kekuatan kelompok Islam bertentangan dengan PLO. Tak diragukan lagi, perkembangan ini membuat Israel mengubah taktik, untuk memusatkan perhatian pada gerakan Islam baru yang bersatu dibawah ciri yang sama ini, dan bukan dengan PLO, yang telah kehilangan dukungan penting dari blok Soviet yang sekarang telah beku, yang menjadi kekuatan terbesarnya. Israel lebih memilih membuat perubahan strategi, bukan menghadapi dua ancaman ini sekaligus. Hal terpintar yang dilakukan adalah mengakui PLO sebagai perwakilan resmi kepentingan Palestina dan lalu memainkan kartu PLO melawan kekuatan Palestina lainnya. Tentu ini berarti bahwa Israel harus sementara waktu menghentikan kebijakan penyerangan yang telah berlangsung bertahun-tahun, jika itu penting untuk taktik ini. Inilah dasar bagi Israel dan PLO memulai proses perdamaian selama awal 1990-an..

jangan lupa di share:)

Sejarah masuknya Islam di Rusia

Sejarah masuknya Islam di Rusia


Islam masuk ke Rusia pada pada tahun 992 Masehi, ketika sekelompok etnis Rusia yang hidup di Siberia, yang disebut Bulgar memeluk agama islam dan kemudian menyebarkannya ke seluruh Rusia ,Mayoritas Muslim di Rusia mengikuti ajaran Islam Sunni. Dalam beberapa kawasan, terutama di Dagestan dan Chechnya, ada tradisi Sufisme, yang diwakili oleh tarekat Naqsyabandi dan Shazili dipimpin oleh Shaykh Said Afandi al-Chirkawi ad-Daghestani. Amalan sufi memberikan orang Kaukasus semangat kuat untuk menolak tekanan orang asing, dan telah menjadi legenda di antara pasukan Rusia yang melawan orang Kaukasus pada zaman Tsar. Orang Azeri juga pada sejarah dan masih lagi pengikut Islam Syiah, disaat republik mereka terpisah dari Uni Soviet, banyak orang Azeri yang datang ke Rusia untuk mencari pekerjaan.


Kaum Muslimin Rusia terbagi dalam 14 wilayah administratif, terletak di dua wilayah geografis politis Rusia yang sangat rawan konflik. Enam republik dan satu wilayah administratif berada di Rusia tengah, berbatasan dengan Kazakhstan; dan tujuh republik lain di Kaukasus Utara berbatasan dengan Georgia, Azerbaijan, Armenia, Turki dan Iran.


Sekurang-kurangnya 15-20 persen dari jumlah penduduk negara Rusia memeluk islam dan membentukkan agama minoritas yang terbesar. Masyarakat besar Islam dikonsentrasikan di antara warga negara minoritas yang tinggal di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia: Avar, Adyghe, Balkar, Nogai, Orang Chechnya, Circassian, Ingush, Kabardin, Karachay, dan banyak bilangan warga negara Dagestan. Di Volga Basin tengah ada penduduk besar Tatar dan Bashkir, kebanyakan mereka Muslim. Banyak Muslim juga tinggal di Perm Krai dan Ulyanovsk, Samara, Nizhny Novgorod, Moscow, Tyumen, dan Leningrad Oblast (kebanyakannya kaum Tatar).


Qur'an pertama yang dicetak diterbitkan di Kazan, Rusia pada 1801. Satu lagi fenomena yang terjadi adalah gerakan Wäisi.



Pada era 1990-an, jumlah percetakan risalah Islam telah meningkat. Antaranya ialah beberapa buah majalah dalam bahasa Rusia, "Ислам" (transliteration: Islam), "Эхо Кавказа" (Ekho Kavkaza) dan "Исламский вестник" (Islamsky Vestnik), dan beberapa surat khabar berbahasa Rusia seperti "Ассалам" (Assalam), dan "Нуруль Ислам" (Nurul Islam), yang diterbit di Makhachkala, Dagestan.


Sebagai penyebaran isu gender Islam melalui pertukaran, hal yang sama juga berlaku di Rusia Islam dibawa oleh broker Muslim Arab dari lokal Kaukasus dan menyentuh dasar di Moskow dari utara daripada selatan sebagaimana ditegaskan oleh spesialis sejarah beberapa, mereka berpendapat bahwa Islam datang ke Moskow dari selatan, sebagai jalan yang paling menguntungkan untuk pengembangan penjual pasukan. Sepanjang jalur tersebut, suku Cossack Rusia yang telatih untuk perang, tetap terhadap penyebaran Dakwah Islam dan dampaknya Islam beringsut menuju jantung Rusia.

Kemudian dibatasi pedagang dan menteri Muslim untuk menyeberang stepa Asia Tengah menuju Siberia, dengan bantuan dari Tatar yang telah diubah ke Islam dan mendapat bantalan dengan agama yang benar sejak abad kesembilan dalam kerajaan mereka, kerajaan Volga Bulgaria Timur, yang sekarang menjadi negara mereka. Rentang ini untuk sebagian besar berubah ke Islam pada abad kesepuluh, dan ratusan kesebelas dan kedua belas tahun, Islam tersebar di wilayah Ural, yang saat ini disebut Republik Bashkiria (Bashkortostan). Pada rekening broker Muslim dari Arab, Iran dan Turki Islam kemudian menyebar ke bagian yang berbeda dari lokal Muslim Rusia.Kaum hari ini, telah berubah menjadi lain membatasi sekitar Rusia, dari Siberia ke arah utara dan timur atas ke selatan.



Kedekatan Islam di Moskow sekitar 1200 Masehi, ketika ibukota wilayah Muslim di kota Kazan. Sekitar kemudian, Moskow membayar biaya ke Kazan. Kazan tetap ibukota Muslim sampai 1552, ketika Tsar Rusia Ivan The Terrible telah dimiliki dan dimusnahkan Kazan, dibakar, bergerak qubah-qubah pandangan ke Kremlin Moskow dan Red Square, yang masih ada sampai 'til hari ini. Pada saat itu ia terlibat kota Astrakhan pada tahun 1556, Western Siberia pada 1598, dan menuju akhir dari abad keenam belas menyentuh dasar di wilayah Muslim di Kabordino dan Chechnya. Dari saat itu, Rusia mulai perang mereka melawan kaum Muslim, mereka dilarang Muslim melakukan praktik keagamaan dan mendorong mereka untuk mengambil setelah tradisi dan adat istiadat dari Rusia. Semuanya dilakukan dalam struktur me-Rusia-Muslim, dalam hal itu tidak negara: mengkristenkan mereka. Mereka memperlakukan umat Islam brutal, perpetrating siksaan, menjarah kekayaan dan hukuman mereka berkenalan berlakunya dengan penghuni kawasan Mewajibkan untuk menolak Islam. Meskipun demikian, mereka tidak menang dalam usaha ini.



Mayoritas Muslim tetap mengikuti agama mereka, kekejaman Rusia tidak mampu menghentikan penyebaran Islam. Dan sungguh sebuah paradoks yang aneh, sebaliknya Islam mencapai kemajuan baru di paruh kedua abad 18, pada masa pemerintahan Ratu Rusia, Catherine II, dengan berubahnya kebijakan Rusia terhadap umat Islam yang hidup dalam perbatasannya. Saat itu, kaum muslimin mencicipi kebebasan. Pada tahun 1764, propaganda toleransi beragama menguat, dan pada tahun 1767 pengusiran penduduk Tatar dari kota mereka, yaitu Kazan, dicabut pemerintah. Pemerintahan menuju tahap baru pada tahun 1773 dengan memberikan Tatar Volga kebebasan beragama, hak untuk membangun masjid dan sekolah Al-Quran. Pedagang Volga kemudian menjadi mediator yang sangat baik antara Tsar Rusia dan Asia Tengah. Mereka juga bertindak sebagai da’i dan muballigh, membangun masjid, sekolah dan membawa Islam kepada orang-orang yang masih semi-politheis di Bashkiria dan Siberia Barat.


Kebijakan Tsar Rusia ini bukan didasari karena kecintaan terhadap umat Islam, tetapi kebijakan yang didorong kepentingan Rusia untuk memperluas pengaruh dan kontrol atas daerah tetangga, karena ia menyadari kemungkinan untuk memanfaatkan masyarakat Muslim yang berada di Rusia, sehingga kehadiran Rusia di Asia Tengah dapat diterima bahkan diinginkan di wilayah itu. Hal itulah yang mendorong para penguasa Rusia untuk memperhatikan kekuatan politik umat Islam yang tinggal di Tsar Rusia pada saat itu, pemerintah mulai mencoba untuk mendapatkan dukungan mereka, didirikanlah lembaga sebagai pusat Fatwa di Renburg (kemudian pindah ke Ufa) pada 1788. Setelah itu, dibentuk tiga lembaga lain untuk Penerbitan Fatwa dalam abad berikutnya, satu lembaga pada 1831, dan dua lainnya pada tahun 1872. Lembaga-lembaga ini sejenis hai’ah ulama (institusi ulama), yang ada di pemerintahan Utsmani. Lembaga ini memiliki wewenang dalam beberapa aspek hukum perdata, bertanggung jawab atas kaderisasi ulama, pemeliharaan Wakaf dan publikasi buku-buku keagamaan yang tidak dibolehkan terbit sebelum tahun 1800.


jangan lupa di share ya :)

11 Kata Dakwah Terbaik.

11 Kata Dakwah Terbaik.


Pengaertian Dakwahkegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata Dakwah  merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan

Simak kata-kata dibawah ini untuk direnungkan :)


  1. Al-Qur’an adalah buku panduanya,ilmu pengetahuan adalah alatnya, menyembah Allah adalah tujuan akhirnya
  2. Kesungguhan melaksanakan dan mengamalkan esensi al-Quran dan hadist tentu lebih berat daripada sekedar menghafalnya
  3. Semakin merasa dirimu bersih, maka semakin lelah kau menutup aib-aibmu
  4. Sebisa mungkin tutuplah aib orang lain,dengan begitu aibmu pun akn semakin ditutupiNya.
  5. Untuk mengukur harga dirimu dihadapan Allah, maka ukurlah berapa harga agama Allah dlm kehidupanmu
  6. sebodoh bodoh manusia modern adalah sibuk mengurus naik turun saham, naik turun harga, namun lalai mengurus naik turun harga dirinya dihadapan Allah
  7. Panjatan doa adalah wujud kebutuhanmu untuk menghadirkan Tuhan dlm usahamu. Kesombongan untuk tak berdoa adalah wujud kesiapanmu menyambut murkaNya!
  8. tiga pilihan terbentang di hadapan manusia: Berarti didunia dan akhirat, berarti didunia dan tidak diakhirat atau tdk berarti didunia dan akhirat. yg manakah yg akan engkau ambil wahai saudaraku?
  9. Siapapun yg tak memiliki rasa kasih sayang,maka jgn berharap disayangi. Maka segeralah merdekakan dirimu dari segala bentuk kebencian dan angkara murka
  10. Merasakan penderitaan umatnya, bukan sekedar tahu. Inilah Rasulullah. inilah contoh konkrit pemimpin sesungguhnya, pemimpin sejati!
  11. Seringkali kita kagum dan terlena oleh buah pemikiran seseorang, namun acuh terhadap ahlakul karimah yg justru puncak dari buah pemikiran orang tsb 
Jangan lupa di share ya :)